Aku ingat pagi itu sinar matahari masuk lewat celah tirai, kopi masih hangat, dan Alkitab terbuka di pangkuan. Bukan momen spektakuler, hanya rutinitas yang pelan-pelan mengubah hidup. Ada sesuatu yang sederhana tapi kuat ketika kita membuka firman, merenung, lalu membagikannya dengan orang lain. Di sinilah, menurutku, iman tumbuh: bukan hanya karena informasi, tapi karena pengalaman yang terus-menerus dan komunitas yang memelihara.
Pelajaran Alkitab: lebih dari sekadar bacaan pagi
Pertumbuhan imanku seringkali dimulai dari pelajaran Alkitab yang tersusun rapi — atau kadang tidak rapi sama sekali kalau aku membaca sambil setengah mengantuk. Ada hari-hari ketika satu ayat terasa seperti ditembak tepat ke hati. Aku menandainya, menulis di pinggir halaman (iya, aku masih suka coret-coret), dan terkadang tersenyum konyol karena merasa ditegur. Membaca Alkitab bukan sekadar menambah pengetahuan; itu seperti percakapan yang hidup. Aku belajar menanyakan: apa konteksnya? Siapa yang berbicara? Apa relevansinya untuk aku yang lagi panik karena deadline atau yang baru saja dimarahi bos?
Praktik kecil yang membantu: baca perlahan, catat pertanyaan, dan ulangi bacaan beberapa kali. Kadang Tuhan berbicara pada pengulangan. Kadang ayat yang sama yang dulu biasa-biasa saja menjadi sangat relevan saat menghadapi pergumulan baru.
Merenung: bagaimana membuat refleksi jadi kebiasaan?
Aku pernah berpikir refleksi itu harus dramatis — menyorot lilin, musik instrumental, dan catatan panjang-bisa-berjam-jam. Kenyataannya, refleksi bisa dimulai dari 5 menit setelah sarapan, atau saat menunggu mesin cuci selesai (iya, momen-momen domestic itu sakral juga). Intinya, refleksilah secara jujur. Tuliskan apa yang membuatmu bersyukur, apa yang menakutkan, dan di mana kamu melihat jejak Tuhan dalam keseharian.
Satu kebiasaan yang kugemari: menutup bacaan Alkitab dengan pertanyaan sederhana: Apa yang baru aku pelajari tentang Allah? Bagaimana ini mengubah cara aku melihat situasi hari ini? Apa satu langkah kecil yang bisa aku ambil? Menjawabnya biasanya memunculkan tindakan kecil — menelepon seseorang, meminta maaf, atau menolong tetangga yang membawa belanjaan. Bukankah iman yang hidup terlihat dalam tindakan nyata?
Mengapa komunitas itu penting? (dan bagaimana memilih komunitas yang sehat)
Aku pernah ikut kelompok studi yang rasanya seperti kompetisi hafalan — semua orang ingin benar, bukan lelah bareng. Setelah beberapa kali menghadiri, aku merasa lebih stres daripada diberkati. Lalu aku bergabung dengan kelompok kecil lain: ada tawa, ada air mata, dan orang-orang yang mau membawakan sup ketika aku demam. Itulah bedanya. Komunitas yang sehat adalah tempat di mana kita bisa jujur tanpa takut dihakimi, diingatkan dengan kasih, dan dilatih untuk melayani.
Tips sederhana memilih komunitas: amati bagaimana mereka saling berbicara, apakah doa menjadi bagian dari pertemuan, dan apakah ada kesempatan nyata untuk melayani. Jangan takut pindah kalau lingkungan itu tidak memupuk imanmu — iman itu tumbuh subur di tanah yang aman.
Kalau kamu suka sumber belajar tambahan, aku juga sering menemukan materi yang menyegarkan di beberapa situs pembelajaran rohani yang terpercaya — misalnya beberapa kursus pembentukan rohani yang membahas disiplin rohani secara praktis seperti christabformation.
Langkah-langkah praktis untuk membangun iman sehari-hari
Aku tidak punya formula ajaib, tapi ada rutinitas yang sederhana dan bisa dicoba: 1) Tetapkan waktu singkat tiap hari untuk membaca (10–20 menit cukup). 2) Tuliskan satu ayat yang menyentuh dan satu aplikasi praktis. 3) Jadwalkan pertemuan reguler dengan komunitas kecil (sekali seminggu atau dua minggu). 4) Praktekkan satu tindakan kasih tiap minggu—bisa kecil, seperti mengantar kopi ke tetangga. 5) Bagikan perjuanganmu—ketika aku berbagi, sering kali beban terasa lebih ringan dan perspektif baru datang.
Akhirnya, membangun iman itu perjalanan—ada hari penuh kemenangan, ada hari berantakan ketika aku nangis di dapur karena merasa gagal (dan sempat menumpahkan kopi juga, haha). Tetapi lewat pelajaran Alkitab, refleksi, dan komunitas, aku belajar untuk bangkit lagi. Iman yang bertumbuh bukan yang steril dan sempurna, tapi yang nyata, bercacat, dan terus menoleh pada kasih yang setia. Kalau kamu sedang di tengah proses itu, tahu deh, aku di sini bersorak untukmu — kadang dengan doa, kadang hanya dengan secangkir kopi hangat dan telinga yang siap mendengar.